KANGEN AYAH
Ruangan 4 X 6 itu sunyi. Hening. Tak bernada. Hanya sesekali terdengar suara kamu. Suara tangismu. Karena kamu sendiri, di dalam ruangan yang kamu sebut itu kamar. Tempat kamu menghabiskan hari, ketika lelah akhirnya memaksamu untuk terlelap.
Malam itu kamu betul-betul merasa sepi. Bahkan nyamuk yang biasanya berkeliaran mengganggu, rasanya malas mengusikmu malam itu. Karena kamu ingin sendiri. Sampai jam dinding kamarmu takut-takut berdetak nyaring. Takut mengganggu kamu.
Kamu betulkan letak dudukmu. Membuat semakin nyaman, mungkin. Sambil sesekali mengusap bulir-bulir air mata yang mengalir di kedua pipimu. Dan menghela nafas untuk membuat lega dadamu, kendati itu hanya sementara. Karena ketika kenangan itu kembali. Kamu merasa kalah oleh air mata.
Malam itu tepat tiga tahun ayahmu meninggalkan dunia fana ini. Menyambut keabadiannya, di tempat dia seharusnya berada. Kembali kepangkuan Tuhan. Padahal kamu belum siap-siap. Belum sempat membuat perencanaan yang matang. Belum tahu apa yang harus kamu lakukan. Karena semua terlanjur terjadi. Secepat itu.
Kamu dekap kakimu makin erat. Berusaha membuat hangat tubuhmu, di malam yang makin larut dan dingin itu. Tapi ketika dekapan itu makin erat, kamu justru merasa makin sesak.
Ayahmu adalah sosok yang unik. Di balik ketidakperhatiannya. Di belakang semua sikapnya yang kaku. Kamu tahu, beliau adalah pribadi yang hangat.
Ayahmu, bukan orang yang selalu bertanya ‘Apa saja yang kamu lakukan hari ini’, ‘Jangan lupa belajar!’, ‘Hati-hati..’ Tapi kamu selalu tahu. Saat kamu takut, dia ada di baris depan yang siap memelukmu. Saat kamu sendiri, dia ada di sampingmu. Walaupun kadang hanya diam saja sampai berjam-jam.
Kamu takut.
Ketika ayahmu pergi. Kamu tahu kamu kuat. Kamu yakin bisa menerima kenyataan itu. Menerima tanggung jawab besar, karena kamu anak laki-laki. Tapi, semakin banyak hari yang kamu lewati tanpanya. Semakin banyak moment yang berlalu tanpa adanya. Makin kamu dirundung sepi. Digerogoti rasa kehilangan yang kamu tahu berasal dari kepergian itu.
Kamu mau teriak. Kamu mau ada yang memedulikan kegelisahan hatimu kini. Karena rumah tidak lagi seramah dulu. Senyum dan tawa ibumu, kini jarang sekali hadir. Semaraknya makin lama makin mencekam. Karena waktu terus berjalan dalam kebisuan.
Kamu tidak perlu bertanya. Kamu tidak perlu bersuara. Karena perubahan itu sangat jelas di hadapanmu. Kamu takut beradaptasi. Karena dengan begitu, kamu merasa merusak kenangan atas ayahmu. Kamu ingin semua biasa saja. Sama seperti sebelum semua itu terjadi.
Kamu kangen suara dengkur ayahmu yang berisik. Kamu rindu bau badan ayahmu dan suara motornya yang setiap sore menyapamu, ketika beliau pulang. Ekspresi kagum ayahmu, setiap kali melihat seseorang dengan sangat baik menyampaikan ilmu agama. Ataupun sekadar melihat seorang pembawa acara berita mewartakan sebuah informasi. Kamu mau melihat ekspresi itu. Lagi.
Namun semua itu harus terkunci dalam satu kata. Kenangan.
Kamu berdiri akhirnya. Karena dudukmu makin tidak membuatmu nyaman. Perlahan kamu berjalan ke arah jendela. Berusaha mencari udara baru. Karena udara di ruangan 4 X 6 itu makin pengap. Makin membuat dirimu sesak. Tidak bisa bernafas.
Kamu buka daun jendela yang sudah mulai rapuh itu. Menghirup sedalam-dalamnya udara malam itu. Padahal sudah pukul 11.45 malam di kamarmu. Kamu menggigil kedinginan. Tapi, kamu memilih tetap berdiri di sana. Memandang ke muka angkasa yang seolah mengejekmu. Langit bertabur bintang yang berkelap-kelip semarak. Bulan setengah, yang menyeringai manja ke arahmu. Membuatmu mendesah lemah.
Tadi siang hampir saja kamu bercerita. Kepada sahabatmu. Aku.
Tapi kamu akhirnya menyerah lagi pada ketakutanmu akan konsep ‘berbagi cerita’. Tidak masalah. Aku tahu. Aku mengerti. Karena diammu. Sudah cukup brkata-kata.
Aku tahu kamu lebih nyaman menyimpan permasalahan yang kamu rasakan seorang diri. Menyimpannya tanpa tahu, apakah akan terselesaikan nantinya. Ataukah tidak. Karena kamu merasa yakin bisa. Padahal tidak.
Kemudian akhirnya kamu memilih menyimpan 80 persen masalahmu saja. Dan membagi 20 persen lainnya kepada sahabat-sahabat yang kamu pikir bisa dijadikan tempat berbagi.
Mari.. Datang dan cerita saja. Aku siap mendengar 20 persen cerita kamu. Aku akan diam saja. Aku akan menjadi pendengar yang baik saja. Kalau itu adalah cukup. Aku tidak bermasalah.
Tapi, kamu memilih diam kembali. Tidak apa-apa.
Kamu mendesah lagi. Untuk perasaan yang semakin sulit diurai bagai benang kusut. Lalu sesuatu yang hangat menyentuh pundakmu. Sentuhan tangan itu membuatmu nyaman. Kamu tidak perlu menoleh, karena sentuhan itu sangat kamu kenal. Tangan yang membelaimu. Tangan yang telaten mengurusi setiap kebutuhanmu. Tangan yang menggenggam tanganmu ketika kamu takut. Tangan yang setiap hari ‘masih’ bisa kamu kecup hangat. Tangan ibumu.
Ibumu tesenyum. Senyum yang sangat tulus. Ketika ketulusan semakin mahal saat ini. Tetapi masih ada ketulusan disenyuman itu. Ada duka yang terlukis nyata di kedua mata itu. Kamu sangat merasakan. Lalu ia berbisik. Dan memelukmu hangat. Perlahan ibumu keluar kamar. Meninggalkan kamu yang berdiri mematung. Kedua matamu tidak pernah lepas dari sosok yang makin lama, makin menghilang dalam temaramnya lampu rumahmu.
Kata-kata ibumu masih terdegar jelas. ‘Doamu adalah kekuatan ayahmu dikekekalannya. Dan mimpi ayahmu adalah batas. Batasmu yang selalu kamu ingat ketika langkahmu terbatas atau melampaui. Ayahmu tidak pernah benar-benar pergi. Hanya raganya saja yang terkubur bersama tempatnya diciptakan. Tapi, sesungguhnya ia tetap hidup. Di sana. Di hatimu.’
Kamu tersenyum.
Untuk Zaldy yang kagen Ayahnya…
Ciledug, 8-9 Juli 2011
Komentar
Posting Komentar